Agro Techno Park Sumatera Utara (2)

SIAPA sangka, lahan seluas 1,3 hektar yang dulunya nyaris terbiarkan karena dianggap tidak lagi subur, kini berubah drastis menjadi areal produktif. Bahkan lahan yang sempat dibilang sebagai tempat ‘jin buang anak’ itu kini jadi kawasan percontohan.

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menjadikan tempat yang berlokasi di Dusun VII, Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, itu sebagai laboratorium organik. Dibangun sejak tahun 2006, YEL menjadikan lahan yang awalnya hanya disebut demplot itu sebagai Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), yang kemudian oleh pemerintah dilengkapi sarananya dan jadilah agro tecno park.

“PPLH Bahorok didirikan berlatarbelakang kegelisahan kami, bahwa sejak kejadian banjir bandang lalu banyak masyarakat hanya berharap pada belas kasihan. Apalagi nasib petani juga tidak kunjung membaik, ditambah ketergantungan mereka yang semakin besar terhadap pupuk kimia dan pestisida,” kata dr Sofyan Tan, Ketua YEL.

Mulailah, YEL berpikir untuk memberdayakan masyarakat petani lewat lahan percontohan. Mereka membeli tanah seluas 1,3 hektar yang sebenarnya bukan tanah subur. “Saya dibilang, bodoh banget, membeli tanah yang tidak subur. Tempat jin buang anak,” kenang Sofyan Tan.

Dibantu sejumlah sarjana yang punya pemahaman sama untuk membangun lahan yang tidak subur tersebut tanpa pupuk dan pestisida non organik, jadilah demplot yang mereka impikan terus berkembang memiliki sejumlah fasilitas percontohan yang lengkap.

“Hari demi hari, tanaman berkembang, ternak dan ikan juga berkembang. Inilah jadinya sekarang, masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya,” ujar Sofyan Tan.
Kawaasan yang hanya berjarak sekira 2,5 km dari lokasi wisata Bukit Lawang itu pun, Kamis (8/1) lalu diresmikan Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE, menjadi agro tecno park. “Ini sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU antara Pemprovsu dengan YEL pada 27 Oktober 2008 lalu. YEL menyediakan lahan seluas 1,3 hektar ini beserta sejumlah sarana dan fasilitas di dalamnya, Pemprovsu melengkapinya dengan sejumlah alat teknologi sehingga layak disebut sebagai agro techo park atau taman teknologi pertanian,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatera Utara, T Azwar Aziz.

Di antara sejumlah alat yang diberikan adalah mesin pencacah pembuatan kompos, solar cell, mikroskop, dan perangkat pembuatan biogas. Sebelumnya PPLH sudah mempunyai sejumlah sarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang pertemuan.

“Agro tecno park ini dibangun untuk memfasilitasi percepatan alih tehnologi pertanian yang dihasilkan pemerintah kepada masyarakat. Sekaligus pembangunan pertanian bersiklus biologi. Direncanakan jadi pusat percontohan bagi masyarakat dengan kegiatan pelatihan dan pemagangan, sekaligus jadi lokasi agro edu wisata” papar Azwar.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi pun memberikan pujian atas gagasan pembangunan agro tecno park yang pertama kali dilakukan pihak swasta ini. Jika lainnya dibangun pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Riset dan Teknologi, sebaliknya Agro Tecno Park Bahorok ini dibangun YEL dengan dukungan pemerintah. Deputi Bidang Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi Amin Subandrio saat peresmian kawasan Agro Tecno Park Bahorok, mengatakan, sampai saat ini ada tujuh agro tecno park yang telah dikembangkan di Indonesia, yakni di Sumatera Selatan, Gorontalo, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, dan Bahorok Sumatera Utara.

“Namun Agro Tecno Park Bahorok ini harus mampu menciptakan komoditas unggulan agar mampu bersaing. Tetapi tetap melakukan diversifikasi dengan konsep bio cycle farming,” kata Amin. (**)

Dari Biofiltrasi Hingga Aquaponic

MENGINJAKKAN kaki di areal Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bahorok, suasana teduh dan tenang laksana taman langsung terasa. Jajaran tanaman memagar lahan, kemudian suguhan aneka jenis tamaman sayuran, buah-buahan hingga bunga tertata apik di sekitar jalan setapak yang membawa kita masuk ke areal yang baru diresmikan menjadi agro tecno park ini.

Tak jauh menapakkan kaki dari pintu masuk, suara gemericik langsung terdengar dari jatuhnya air melalui pipa ke kolam-kolam ikan.

Air datangnya dari kolam terdepan yang mirip rawa, karena banyak tetumbuhan air yang menyemak seperti mendong, gelagah, eceng gondok dan lain-lain.

“Ini kolam biofiltrasi atau penyaring. Banyak yang tanya, untuk apa membiarkan eceng gondok atau gelagah tumbuh di kolam. Padahal ini merupakan salahsatu cara untuk menetralisir air dari kandungan racun dan zat kimia. Jadi air sebelum masuk ke kolam ikan atau areal sawah terlebih dahulu dibersihkan, demikian juga setelah nantinya digunakan sebelum dibuang ke parit atau sungai,” kata Yenni Lucia, manager PPLH Bahorok.Beranjak dari situ, ada kolam ikan yang cukup lebar dibelah jembatan bambu.

Melintas di jembatan itu kita bisa menyaksikan aneka ikan berenang, serta lahan apung bak pulau-pulau di tengah kolam ditumbuhi aneka sayuran diantaranya kangkung akar.

Keseluruhan ada enam kolam ikan di areal ini, diisi ikan nila, tawes dan mas. Namun keberadaannya diselang-selingi lahan lainnya seperti kolam bebek, sawah seluas 1.000 m2, kebun polyculture yang diisi sekira 30 jenis sayur dan aneka tanaman buah serta obat-obatan, rumah pembibitan, rumah kompos, dan aquaponic.

“Aquaponic ini andalan kami. Di tanah yang kecil, mampu menghasilkan tiga produk sekaligus yakni ikan, sayur dan markisa. Ini cukup untuk menghidupi keluarga,” imbuh Ketua Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), dr Sofyan Tan.
Semua sistem atau mekanisme yang digunakan di kebun PPLH Bahorok ini adalah organik. Tanpa sedikitpun menggunakan pupuk atau pestisida non organic.Yenni mencontohkan, lokasi yang ditanami sayuran akan terlihat diselingi tanaman bunga seperti tagetes, kembang sepatu, jengger ayam dan lainnya. “Ini fungsinya sebagai perangkap, pengusir hama tanaman. Jadi tidak perlu menggunakan pestisida,” terang alumni IPB tahun 2005 ini.

Lalu soal aquaponic, sebuah kolam yang letaknya ada di belakang kebun, Yenni pun menjelaskan ini suatu sistem bertani yang berkelanjutan. Gabungan antara budidaya ikan (aquaculture), dan sistem hidroponik (tanaman dipelihara tanpa media tanah, kebutuhan nutrisi tanaman diberikan dalam bentuk larutan hara), dengan tanaman darat berupa buah markisa yang dibiarkan menjalari bamboo menjadi naungan kolam. “Di sini ada siklus terjadi. Kotoran dan sisa makanan ikan menjadi pupuk bagi tanaman. Sedangkan tanaman menjadi penyaring air yang alami untuk ikan di kolam tersebut,” ucap Yenni.

Model-model pertanian seperti inilah yang coba diajarkan para staf PPLH kepada para petani sekitar yang ikut belajar sekaligus bekerja di areal tersebut. Hasilnya positif, kelompok tani yang terbentuk sudah mulai menerapkan di lahan masing-masing walau dengan skala lebih kecil.

“Awalnya sempat bingung, tapi lama-lama jadi tahu dengan cara bertani seperti ini. Sekarang saya pun sudah mulai mencoba di lahan sendiri,” kata Uden, yang mengaku sudah dua tahun lebih belajar dan bekerja di lahan PPLH Bahorok.
Manfaat yang dirasakan? Uden tidak mau mengatakan produktivitas lahannya meningkat atau menurun. “Yang jelas, dari segi penghasilan bisa lebih besar,” ujarnya.

Karena secara ekonomis, harga sayur-sayuran organik yang dihasilkan Uden dkk dihargai lebih mahal. Konsumennya, para pemilik hotel atau penginapan di kawasan wisata Bukit Lawang. Utamanya bagi tamu-tamu Eco Lodge, sebuah cottage bernuansa alam yang juga dikelola YEL. (**)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s