KEMISKINAN

Masalah kemiskinan, walaupun dipercaya sudah seusia peradaban manusia, belum banyak dianalisis secara komprehensif dan mendalam. Hal ini dikarenakan antara lain belum adanya konsep yang diterima secara universal, dan belum ada satu metode pengukuran yang diterima luas. Di Indonesia salah satu indikator kemiskinan yang dipergunakan adalah pendapatan per kapita. Perhitungan ini menghasilkan masukan akan jumlah penduduk yang miskin absolut dan miskin relatif, dua jenis kemiskinan yang paling generik.

Kemiskinan absolut berarti mereka yang benar-benar miskin dan hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan ini kebanyakan ada di negara-negara berkembang, khususnya terjadi karena keterbelakangan negara tersebut.

Kemiskinan relatif menunjuk pada penduduk yang sudah berada di atas garis kemiskinan, namun berada dalam strata masyarakat yang paling bawah dibandingkan masyarakat sekelilingnya; yaitu mereka yang sudah hidup di atas garis miskin, tetapi mereka masih berada dalam kondisi rentan untuk jatuh miskin (di bawah garis kemiskinan) karena berada dalam posisi terbawah.

Kondisi miskin berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi tiga.

1. Miskin natural : kelompok masyarakat yang miskin dari asalnya sudah miskin, karena berada dalam kelompok yang terbelakang dan kekurangan sumber daya secara absolut.

2. Miskin kultural : kelompok masyarakat yang miskin karena mengidap budaya miskin. Budaya miskin adalah budaya malas, tidak produktif, mudah menyerah, malas berusaha, dan malas untuk belajar.

3. Miskin struktural : kelompok masyarakat yang menjadi miskin karena memang struktur social-ekonomi di masyarakat tidak memungkinkan baginya untuk tidak miskin.

Strategi Kebijakan

Kebijakan yang akurat untuk menangani ketiga jenis kemiskinan berdasarkan penyebabnya tersebut tidak seragam.

Untuk kemiskinan natural dilakukan dengan mengembangkan kemampuan kelompok tersebut agar mampu bersaing dengan kelompok di luarnya. Tahap pertama adalah memberikan pembanding baik secara citra maupun riil, kemudian menyiapkan pengembangan kapasitas baik dalam arti menginjeksikan pengetahuan maupun teknologi.

Bagi kelompok yang miskin secara kultural pendekatannya melalui pemberian pendidikan, informasi, sekaligus memotivasi mereka untuk maju dan berkembang, memiliki etos kerja yang tinggi, dan akhirnya mengembangkan daya saing, baik secara perorangan maupun kelompok.

Bagi kelompok yang miskin secara struktural, kebijakan lebih mudah karena focus pada kebijakan politik. Kemiskinan struktural diakibatkan karena kebijakan politik ekonomi yang menyebabkan alokasi sumber daya produktif jatuh pada sekelompok kecil masyarakat saja. Kebijakan ini diakibatkan adanya prioritas pembangunan yang sangat mengacu pada pertumbuhan dan kurang pada pemerataan. Kebijakan politik-ekonomi tersebut menghasilkan iklim dimana yang mempunyai peluang untuk maju hanya kelompok yang dekat dengan kekuasaan saja, yaitu mereka yang dapat menggunakan kedekatannya untuk mendapatkan akses sumber daya produktif.

Pada masa lalu kebijakan yang terlalu menekankan pada pertumbuhan menyebabkan kondisi-kondisi seperti tadi muncul. Pada era reformasi ini, kebijakan yang dikembangkan adalah membangun mekanisme pasar yang sehat, dimana semua pihak diberi kesempatan yang sama untuk mengakses sumber daya produktif di satu sisi, dan di sisi lain memberdayakan pelaku-pelaku yang belum mampu, yakni kelompok yang sebelumnya miskin sebagai akibat struktur yang ada menghalangi mereka untuk maju. Jadi, di satu sisi membangun kebijakan yang membangun iklim kompetisi yang fair, dan di sisi lain membangun pemihakan kepada pihak yang memang perlu dipihaki.

Ref:
Sumodiningrat, G dan Nugroho, R. 2005. Membangun Indonesia Emas. Jakarta. Elex Media Komputindo.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s